Hati-Hati Jika Selalu Tersenyum

Tentu senang bukan melihat orang di sekitar kita yang selalu dihiasi senyum? Hati jadi ikut larut dalam kebahagiaan. Nah sebaliknya, tentu tidak nyaman bukan melihat orang di sekitar kita cemberut, juteks, atau jauh dari keramahan. Suasana hati yang tadinya senang bisa jadi akan berubah menjadi ikut tak nyaman.

Nah kalau seandainya kita dianugerahi Tuhan kemampuan untuk selalu tersenyum, kira-kira gimana yah? Hehehe…jangan keburu menjawab iya yah! kalau masih normal-normal saja sih tak menjadi masalah. Tetapi jika setiap saat kita selalu tersenyum, hati-hati karena ini mungkin suatu kelainan genetik.

Yah…penyakit genetik yang dialami orang yang selalu tersenyum. Bahkan ketika dalam situasi hati sedih dan berduka pun, senyum tak akan pernah lepas dari bibir si penderita. Penyakit ini dinamakan sindrom angelman. Sayangnya bukan hanya tak bisa berhenti tersenyum saja, penderita akan cenderung mengalami gangguan perkembangan mental.

Sindrom angelman ini awalnya disebut happy puppet syndrome oleh penemunya, Dr Harry Angelman. Dokter anak ini melaporkan ada tiga anak dengan kondisi seperti itu di Inggris pada tahun 1965. Dia memberi judul laporannya Puppet Children setelah tanpa sengaja melihat lukisan minyak dengan gambar anak memegang gambar puppet. Senyum anak itu mirip dengan senyum ketiga anak yang ditelitinya.

Sindrom angelman sejatinya adalah kelainan syaraf genetik yang ditandai dengan terlambatnya perkembangan intelektual dan mental, gangguan tidur, bengong, melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, misalnya tepuk tangan, selalu tersenyum atau tertawa, dan biasanya tingkah lakunya ceria. Separuh penyebab sindrom angelman adalah hilang atau tidak aktifnya kromosom 15 yang didapat dari gen ibu.

Tetapi tentu jangan khawatir karena penyakit ini masuk ke dalam jajaran penyakit kelainan genetik yang paling langka di dunia, jadi peluangnya sangat kecil terjadi. Jika pun kita melihat orang di sekitar kita mengindap penyakit ini, kita harus bisa mengambil sisi positifnya. Minimal orang tersebut mampu membagi senyum cerianya di lingkungan sekitarnya, meski itu adalah suatu penyakit.

Leave a Reply